SUMBAWA, Beritalima.net – Wakil Bupati Sumbawa, Drs. H. Mohamad Ansori, meminta seluruh jajaran pemerintah daerah tidak menjadikan keterbatasan anggaran sebagai alasan untuk menunda penanganan stunting. Ia menegaskan, upaya menekan angka stunting harus diwujudkan melalui program konkret dan tindakan langsung di lapangan.
Penegasan tersebut disampaikan Ansori saat memantau pemeriksaan dan tata laksana stunting di Puskesmas Moyo Utara, belum lama ini. Dalam kesempatan itu, ia mengajak seluruh perangkat daerah dan pemangku kepentingan memperkuat intervensi terhadap anak yang membutuhkan penanganan sekaligus meningkatkan pencegahan di tingkat keluarga.
“Jangan pikirkan anggaran. Programkan dan laksanakan. Pemerintah daerah akan terus menyiapkan anggaran untuk penanganan stunting,” tegas Wabup.
Menurut Ansori, penanganan stunting membutuhkan langkah cepat, terukur, dan berkelanjutan. Karena itu, ia meminta jajaran pemerintah tidak terlalu banyak menghabiskan waktu dalam rapat, tetapi lebih mengutamakan pelaksanaan program dan turun langsung ke wilayah yang membutuhkan intervensi.
“Kurangi rapat, perbanyak eksekusi lewat tindakan nyata di lapangan. Langsung eksekusi turun ke lapangan. Kita data, kita lihat kecamatan mana yang harus didahulukan, kemudian kita lakukan penanganan bersama-sama,” katanya.
Ia menyebut Kecamatan Moyo Utara menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian dalam upaya percepatan penanganan stunting. Untuk itu, pemerintah daerah akan memperkuat kerja sama lintas sektor, mulai dari OPD, pemerintah kecamatan dan desa, tenaga kesehatan, perguruan tinggi hingga masyarakat.
Ansori juga mengapresiasi keterlibatan tenaga kesehatan dan dokter spesialis yang turun langsung melakukan pemeriksaan serta tata laksana terhadap anak yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
“Kami mengapresiasi para dokter yang hari ini bisa hadir. Terutama dokter spesialis yang turun langsung untuk menangani stunting. Ini merupakan sesuatu yang luar biasa dan mudah-mudahan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Selain intervensi medis dan pemenuhan gizi, Wabup menekankan pentingnya edukasi sebagai bagian dari pencegahan stunting. Menurutnya, pengetahuan keluarga mengenai kesehatan dan pola hidup perlu diperkuat sejak sebelum pernikahan, selama kehamilan hingga anak memasuki masa pertumbuhan.
Karena itu, ia meminta tenaga kesehatan mengoptimalkan kegiatan Posyandu sebagai sarana pelayanan sekaligus edukasi bagi masyarakat, terutama ibu hamil dan keluarga yang memiliki anak balita.
“Kita harus terus memberikan penyuluhan kepada ibu-ibu hamil maupun sebelum pernikahan. Mulai dari Posyandu, pola hidup juga harus selalu disampaikan,” ujarnya.
Ansori juga mendorong keterlibatan tokoh agama dalam menyampaikan pesan pencegahan stunting. Menurutnya, kolaborasi dengan para ustaz dapat memperluas jangkauan edukasi melalui kegiatan sosial dan keagamaan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
“Kita juga bisa bekerja sama dengan para ustaz untuk memberikan penerangan terkait stunting kepada masyarakat, termasuk melalui kegiatan Posyandu,” katanya.
Ia berharap pemeriksaan dan tata laksana stunting di Moyo Utara dapat menjadi bagian dari upaya yang diterapkan secara berkelanjutan di kecamatan lain. Pendataan yang akurat juga menjadi perhatian agar pemerintah dapat menentukan wilayah prioritas dan memberikan intervensi sesuai kebutuhan.
“Kita tangani bersama-sama, gotong royong, dikeroyok. Dengan begitu, stunting bisa kita turunkan secara signifikan dan pada akhirnya anak-anak generasi penerus Sumbawa dapat terbebas dari stunting,” tegasnya.
Ansori menambahkan, keberhasilan penanganan stunting membutuhkan komitmen dan keterlibatan semua pihak. Ia berharap kerja bersama tersebut dapat mendukung terwujudnya generasi Sumbawa yang sehat, berkualitas, dan siap menyongsong Indonesia Emas 2045.
Kegiatan di Puskesmas Moyo Utara tersebut melibatkan jajaran OPD, Dinas Kesehatan, pemerintah kecamatan dan desa, tenaga kesehatan, dokter spesialis anak, perwakilan keluarga berencana, tokoh masyarakat, serta unsur perguruan tinggi. (01)






