SUMBAWA, Beritalima.net – Pemerintah Kabupaten Sumbawa memberikan atensi khusus terhadap ancaman bencana kekeringan yang berpotensi meluas di sejumlah wilayah. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumbawa, sebanyak 8.782 kepala keluarga (KK) atau 34.807 jiwa berpotensi terdampak kemarau pada periode September–Oktober 2026.
Potensi tersebut tersebar di 12 kecamatan dan 28 desa, dengan estimasi kebutuhan air bersih untuk masyarakat mencapai 8.353.680 liter. Pemerintah daerah pun terus mengupayakan distribusi air bersih bagi warga yang membutuhkan, menyusul adanya laporan tambahan wilayah terdampak kekeringan.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik (Darlog) BPBD Kabupaten Sumbawa, Dr. Rusdianto, mengatakan penanganan kekeringan menjadi perhatian serius, terlebih pemerintah telah menetapkan status tanggap darurat bencana kekeringan selama 61 hari, terhitung sejak 1 September hingga 31 Oktober 2026.
“Kemarin ada tambahan dua kecamatan lagi yang melapor terdampak kekeringan dan sudah mulai kita lakukan pendistribusian air bersih ke masyarakat yang membutuhkan,” ujar Rusdianto, yang akrab disapa Anto, Kamis (15/10/26).
Penetapan status tanggap darurat tersebut dilakukan seiring memasuki periode kemarau di sejumlah wilayah. BPBD juga memprediksi puncak musim kemarau berpotensi berlangsung mulai pertengahan Oktober hingga awal Desember 2026, sehingga kewaspadaan dan kesiapsiagaan perlu terus ditingkatkan.
Selain kekeringan, BPBD mencatat peningkatan kejadian bencana di Kabupaten Sumbawa. Hingga triwulan III 2026, tercatat sebanyak 30 kejadian bencana atau bertambah 11 kejadian dibandingkan periode yang sama pada 2025. Total masyarakat terdampak mencapai 1.697 jiwa.
“Total bencana hingga triwulan III sebanyak 30 kejadian, jumlah itu meningkat 11 kejadian dibandingkan tahun 2025 lalu. Jumlah itu pun berpotensi akan terus bertambah hingga akhir tahun 2026,” ungkapnya.
Berdasarkan data BPBD, banjir menjadi jenis bencana dengan jumlah desa terdampak terbanyak, yakni 13 desa atau sekitar 43,33 persen dari total kejadian. Bencana tersebut berdampak terhadap 1.262 jiwa.
Kebakaran menempati urutan berikutnya dengan 11 desa terdampak atau sekitar 36,67 persen, dengan jumlah warga terdampak mencapai 401 jiwa. Sementara itu, angin puting beliung tercatat terjadi di dua desa atau sekitar 6,67 persen, dengan 11 jiwa terdampak.
Melihat kondisi tersebut, BPBD mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi bencana, baik kekeringan maupun bencana hidrometeorologi lainnya. Masyarakat juga diharapkan segera melaporkan kondisi darurat di wilayah masing-masing agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.
“Kami mengimbau kepada masyarakat untuk lebih waspada untuk menekan terjadinya hal yang tidak diinginkan,” tandasnya.
Pemerintah daerah melalui BPBD terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan kondisi di lapangan, sekaligus mengupayakan langkah penanganan sesuai kebutuhan masyarakat terdampak. Kesiapsiagaan seluruh pihak diharapkan dapat meminimalkan dampak bencana dan memastikan kebutuhan dasar warga, terutama air bersih, tetap terpenuhi. (01)






