SUMBAWA, Beritalima.net – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Sumbawa mendorong perubahan pola pembelajaran di sekolah dasar, dari metode konvensional yang berpusat pada guru menjadi pembelajaran yang lebih aktif, kontekstual, dan berpusat pada peserta didik.
Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan pelatihan Pembelajaran Mendalam (PM) yang melibatkan guru-guru di wilayah Gugus 1 Kecamatan Sumbawa. Kegiatan berlangsung di SDN 1 Sumbawa, Rabu (14/10/2026), yang ditunjuk sebagai sekolah model Pembelajaran Mendalam dan Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA).
Kepala Dinas Dikbud Kabupaten Sumbawa, Budi Sastrawan, yang memantau langsung kegiatan tersebut, mengatakan pelatihan ini merupakan bagian dari implementasi Bimbingan Teknis (Bimtek) Digitalisasi Pembelajaran Jenjang Sekolah Dasar yang dilaksanakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah bekerja sama dengan Dikbud Kabupaten Sumbawa pada pekan sebelumnya.
Menurutnya, kegiatan tersebut diarahkan untuk meningkatkan kemampuan guru dan operator sekolah dalam memanfaatkan perangkat digital, khususnya papan interaktif yang telah diberikan kepada satuan pendidikan sebagai bagian dari program digitalisasi pembelajaran.
Ia menekankan pentingnya keseriusan para peserta dalam mengikuti pelatihan agar pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dapat diterapkan serta ditularkan kepada guru-guru lain di sekolah masing-masing.
Sementara itu, Koordinator Pendidikan Kecamatan Sumbawa, Mustakim, M.Pd., menjelaskan bahwa penerapan Pembelajaran Mendalam mengacu pada regulasi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, termasuk Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026 tentang Standar Proses dan Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman.
Menurut Mustakim, perubahan mendasar yang ingin dicapai melalui Pembelajaran Mendalam adalah mengubah pola pikir guru dalam mengelola proses belajar mengajar. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya pusat pembelajaran, melainkan berperan sebagai fasilitator yang mendorong siswa terlibat aktif dalam menggali pengetahuan dan mengembangkan kemampuannya.
“Pembelajaran Mendalam itu mengeksplorasi kemampuan siswa. Dominasi guru dalam proses pembelajaran harus diminimalkan agar anak-anak terlibat aktif. Guru tidak lagi hanya mengandalkan metode ceramah, tetapi menghadirkan pembelajaran yang lebih kontekstual, bermakna, dan berlangsung dalam suasana riang gembira,” jelasnya.
Ia menegaskan, keberhasilan penerapan Pembelajaran Mendalam juga harus didukung lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bagi seluruh warga sekolah. Karena itu, praktik perundungan atau bullying tidak boleh mendapat tempat dalam proses pendidikan.
Guru, lanjutnya, perlu menghindari pemberian label negatif kepada peserta didik, seperti menyebut anak bodoh atau menggunakan ungkapan lain yang dapat merendahkan dan menghambat perkembangan mereka.
“Pembelajaran harus membuat anak merasa aman, nyaman, dan berani mengembangkan potensinya. Tidak boleh ada perundungan maupun pemberian stigma negatif kepada siswa,” tegasnya.
Mustakim mengungkapkan, pelatihan tersebut merupakan pelaksanaan tahap kedua setelah sebelumnya kegiatan serupa dilaksanakan melalui skema BOS Kinerja. Pada tahap ini, guru-guru di wilayah Gugus 1 Kecamatan Sumbawa dihimpun untuk memperdalam pemahaman mengenai konsep dan praktik Pembelajaran Mendalam.
Pelatihan dilaksanakan secara bertahap dengan pendekatan yang menekankan diskusi, pemaparan materi singkat, serta asesmen. Dengan pola tersebut, suasana pelatihan diharapkan mencerminkan praktik Pembelajaran Mendalam yang nantinya diterapkan di ruang kelas.
Selain memperdalam Pembelajaran Mendalam, para peserta juga mengeksplorasi penerapan Koding dan Kecerdasan Artifisial dalam proses pendidikan. Pemahaman mengenai capaian pembelajaran menjadi salah satu fokus penting, sehingga guru dapat mengembangkan potensi siswa melampaui target minimal yang telah ditetapkan.
Mustakim menambahkan, para peserta pelatihan nantinya bertugas melakukan pengimbasan kepada guru-guru lain melalui kegiatan Hari Belajar Guru. Alumni pelatihan akan menjadi narasumber atau fasilitator untuk menyampaikan kembali materi dan praktik yang telah dipelajari.
Menurutnya, mekanisme pengimbasan tersebut menjadi strategi agar hasil pelatihan tidak berhenti pada peserta yang hadir, tetapi dapat menjangkau lebih banyak tenaga pendidik di Kabupaten Sumbawa.
“Peserta nantinya akan menjadi penyaji dalam kegiatan berikutnya. Karena itu, mereka harus serius mengikuti pelatihan agar materi yang disampaikan kepada guru-guru lain juga dapat diterima dengan baik,” ujarnya.
Pemilihan SDN 1 Sumbawa sebagai lokasi kegiatan juga berkaitan dengan penunjukannya sebagai sekolah model Pembelajaran Mendalam dan KKA bersama SDN Sukadamai Labangka. Kedua sekolah tersebut diharapkan menjadi contoh penerapan pembelajaran yang inovatif bagi satuan pendidikan lainnya.
Sebagai sekolah model, SDN 1 Sumbawa juga didorong mempersiapkan perangkat pembelajaran secara optimal, mulai dari modul ajar, alur tujuan pembelajaran, hingga kesesuaian dengan capaian pembelajaran yang ditetapkan kementerian.
Melalui pelatihan yang dilaksanakan dalam enam tahap tersebut, Dikbud Sumbawa berharap guru semakin siap menerapkan pembelajaran yang berpusat pada siswa, memanfaatkan teknologi digital secara tepat, serta menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan.
Dengan demikian, transformasi pembelajaran tidak hanya berlangsung melalui pemanfaatan perangkat digital, tetapi juga melalui perubahan pendekatan mengajar yang memberi ruang lebih besar bagi siswa untuk berpikir kritis, berdiskusi, mengeksplorasi pengetahuan, dan mengembangkan potensinya. (01)






