SUMBAWA, Beritalima.net – Tidak semua penemuan besar lahir dari laboratorium canggih di kota-kota teknologi dunia. Sebagian justru lahir dari ruang kontrol sebuah pabrik pengolahan mineral di kaki Pulau Sumbawa, ketika sekelompok insinyur memilih melihat persoalan sebagai peluang.
Persoalan itu bernama bijih stockpile—bijih mineral yang telah ditambang namun disimpan sebelum diolah. Semakin lama tersimpan, semakin tinggi tingkat oksidasinya. Akibatnya, kandungan tembaga yang seharusnya dapat dipulihkan justru semakin sulit dipisahkan dalam proses flotasi. Nilai ekonominya perlahan menyusut, sementara potensi kehilangan sumber daya semakin besar.
Bagi sebagian orang, kondisi itu mungkin dianggap konsekuensi yang tak terhindarkan. Namun bagi Didit, putra daerah Sumbawa Barat yang tergabung dalam Tim Metallurgy PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), tantangan tersebut justru menjadi titik awal sebuah inovasi.
Bersama timnya, ia mengembangkan penerapan Controlled Potential Sulfidisation (CPS) yang dipadukan dengan teknologi Oxidation Reduction Potential (ORP). Inovasi ini mengubah cara pabrik mengendalikan proses flotasi dengan memanfaatkan sensor yang mampu memantau kondisi kimia slurry secara real-time.
Teknologi itu bekerja layaknya seorang koki yang mengetahui dengan presisi kapan dan seberapa banyak bumbu harus ditambahkan. Sensor ORP memastikan dosis natrium hidrosulfida (NaHS) diberikan secara tepat sehingga mineral tembaga yang sebelumnya sulit dipisahkan kembali menjadi mudah menempel pada gelembung udara dan terangkat sebagai konsentrat.
Hasilnya jauh melampaui ekspektasi.
Recovery atau tingkat perolehan tembaga meningkat secara signifikan. Di saat yang sama, konsumsi bahan kimia justru turun hingga 18,3 persen. Artinya, perusahaan memperoleh lebih banyak mineral berharga dengan penggunaan reagen yang lebih sedikit. Efisiensi meningkat, biaya operasional menurun, dan limbah yang terbuang menjadi semakin kecil.
Inovasi ini bukan sekadar soal angka produksi. Ia mencerminkan perubahan cara pandang dalam industri pertambangan modern: bagaimana teknologi dapat menghasilkan keuntungan ekonomi sekaligus mendukung praktik pertambangan yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Semakin tinggi recovery, semakin sedikit mineral berharga yang berakhir sebagai tailing. Setiap persen peningkatan berarti lebih banyak sumber daya alam dimanfaatkan secara optimal tanpa harus menambah aktivitas penambangan.
Di balik pencapaian tersebut, Didit menilai budaya inovasi di AMMAN menjadi faktor yang tidak kalah penting.
“Di AMMAN, kami didorong untuk terus termotivasi menjadi lebih baik lagi dan tidak cepat puas. Budaya kerja yang sangat mendukung, seperti semangat kerja sama dan dukungan para pimpinan juga menjadi kunci untuk melahirkan inovasi ini. Perusahaan memberikan ruang luas bagi kami untuk terus berinovasi menciptakan sistem yang paling efektif. Bagi saya, ini adalah bukti bahwa semangat lokal dari Sumbawa Barat bisa menghasilkan karya teknis yang diakui secara global,” tuturnya.
Kalimat itu bukan sekadar ungkapan kebanggaan. Ia terbukti ketika inovasi tersebut dibawa ke MetPlant 2026 di Adelaide, Australia—salah satu forum metalurgi paling bergengsi di dunia. Di hadapan para akademisi, peneliti, dan praktisi industri dari berbagai negara, karya ilmiah Tim Metallurgy AMMAN berhasil menyabet penghargaan Best Paper.
Penghargaan tersebut menjadi lebih dari sekadar pengakuan akademik. Ia adalah simbol bahwa inovasi yang lahir dari Pulau Sumbawa mampu berdiri sejajar dengan teknologi terbaik dunia.
Prestasi ini juga mematahkan anggapan bahwa Indonesia hanya dikenal sebagai pemilik cadangan mineral yang melimpah. Melalui inovasi ini, Indonesia menunjukkan bahwa kekuatan sesungguhnya juga terletak pada kualitas sumber daya manusianya—mereka yang mampu menciptakan solusi, meningkatkan efisiensi industri, dan memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan ilmu pengetahuan global.
Kisah Didit dan timnya memperlihatkan bahwa masa depan pertambangan tidak lagi hanya ditentukan oleh seberapa besar cadangan mineral yang dimiliki, melainkan oleh kemampuan manusia dalam mengolahnya secara cerdas, efisien, dan berkelanjutan.
Dari sebuah ruang kontrol di Sumbawa Barat, lahirlah inovasi yang menghemat biaya, meningkatkan produktivitas, mengurangi limbah, dan membawa nama Indonesia bergema di panggung dunia.
Di situlah makna sesungguhnya sebuah inovasi: bukan hanya menciptakan teknologi baru, tetapi mengubah cara dunia memandang kemampuan anak bangsa. (01)






