SUMBAWA, Beritalima.net— Universitas Samawa (UNSA) membuka ruang akademik untuk mengkaji secara kritis sejarah dan keberadaan masyarakat adat Cek Bocek. Melalui diseminasi hasil riset BRIN, UNSA mempertemukan akademisi dengan berbagai pandangan untuk menguji dan mendiskusikan sejarah, kebudayaan serta identitas masyarakat Samawa.
Kegiatan diseminasi tersebut digelar di Aula UNSA, Kamis (8/10/2026), dengan menghadirkan sejumlah akademisi sebagai pemantik diskusi. Mereka antara lain Rusli Cahyadi P. HDY dari BRIN, Prof. H. Iwan Kasadi, P.Hd., Ketua STKIP Paracendikia NW Sumbawa, serta Dr. Burhanuddin, M.Hum., akademisi dan peneliti UNRAM. Diskusi dimoderatori Dr. Enra Syaifuddin, S.H., M.H., advokat sekaligus akademisi UNSA.
Wakil Rektor II UNSA Muhammad Yamin, S.E., M.Si., yang mewakili Rektor UNSA Prof. Dr. Syaifuddin Iskandar, M.Pd., mengatakan kegiatan tersebut sengaja dirancang untuk membuka ruang perdebatan akademik, termasuk mempertemukan pandangan yang berbeda mengenai hasil riset tentang Cek Bocek.
Menurutnya, dua akademisi yang memiliki pandangan berbeda dan sebelumnya telah dikomunikasikan untuk menjadi pemantik diskusi berhalangan hadir karena memiliki agenda lain yang bersamaan. Meski demikian, kondisi tersebut tidak mengurangi semangat UNSA untuk menjadikan forum sebagai ruang diskusi yang terbuka dan dinamis.
“Kami sangat berharap dari diseminasi ini lahir banyak perdebatan akademik dari dua bagian yang memiliki pandangan berbeda tentang Cek Bocek,” ujarnya.
Muhammad Yamin menegaskan, perbedaan pandangan merupakan bagian penting dalam tradisi akademik. Sejarah, kata dia, tidak semestinya diterima begitu saja tanpa kajian, pertanyaan dan kritik.
“Bangsa yang tidak bisa membaca sejarahnya sendiri akan kehilangan arah. Masyarakat yang tidak mengenal masa lalunya akan sulit memahami jati dirinya. Generasi yang tidak belajar dari perjalanan masa lalu akan mudah mengulang kesalahan yang sama,” katanya.
Menurutnya, sejarah harus terus dibaca dan dikaji dari satu generasi ke generasi berikutnya. Setiap generasi perlu memiliki ruang untuk membaca, mempertanyakan, mengkritisi serta menghubungkan sejarah dengan realitas pada zamannya.
Ia mengingatkan agar sejarah tidak dibangun dari narasi yang muncul secara tiba-tiba, kemudian terus dikampanyekan hingga membentuk apa yang disebutnya sebagai “efek kebenaran ilusif”.
“Sejarah harus terus hidup dan dikaji. Jangan sampai sesuatu yang belum teruji kemudian terus disampaikan berulang-ulang hingga dianggap sebagai sebuah kebenaran,” ujarnya.
Dalam konteks sejarah Sumbawa, Muhammad Yamin menyinggung kajian John Ernst Jasper mengenai Pulau Sumbawa dan penduduknya pada 1907.
Dalam catatan tersebut, disebutkan tidak terdapat komunitas masyarakat yang berada di luar kekuasaan Kesultanan Sumbawa. Pada masa itu, Kesultanan Sumbawa telah membagi wilayah pemerintahan yang dibantu sejumlah pejabat tinggi kerajaan.
Salah satunya adalah Datu Ranga yang memiliki wilayah kekuasaan meliputi Empang, Plampang, Utan, Alas, Mapin, Soeri, Selesek, Garantah hingga Dodo di bagian selatan.
“Kalau tiba-tiba ada persepsi baru tentang penggalan sejarah Sumbawa, itulah yang harus kita kaji secara akademik, bukan diterima begitu saja,” tegasnya.
Karena itu, UNSA berharap diseminasi tersebut tidak berhenti sebagai forum sehari. Perguruan tinggi tersebut ingin mendorong lahirnya lebih banyak penelitian mengenai sejarah dan kebudayaan Samawa sekaligus memperluas ruang akademik yang mempertemukan ilmu pengetahuan dengan pengalaman masyarakat.
“UNSA bukan hanya tempat pengetahuan diproduksi, tetapi juga tempat sejarah Sumbawa dibaca, kebudayaan dirawat dan masa depan Sumbawa dirancang,” katanya.
Ia menegaskan Sumbawa tidak semata-mata menjadi objek penelitian. Sumbawa merupakan rumah bersama yang harus dipahami sejarahnya, dirawat identitasnya dan dipersiapkan masa depannya.
“Rumah yang baik bukan hanya rumah yang kita tinggali, tetapi rumah yang kita pahami sejarahnya, kita rawat identitasnya dan kita siapkan masa depannya,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, UNSA juga menyampaikan apresiasi kepada tim peneliti BRIN dan para pemantik yang telah berkontribusi dalam diseminasi.
UNSA turut mengundang berbagai pihak yang memiliki kepentingan langsung dengan substansi riset, baik dari masyarakat adat maupun kalangan akademisi yang memiliki pandangan berbeda terhadap hasil penelitian.
Forum tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk membangun tradisi akademik yang sehat, terbuka dan kritis dalam membaca sejarah Sumbawa, sekaligus memperkuat kajian mengenai kebudayaan Samawa. (01)






